Kau Masih Bocah

Lebih baik kau kenakan celanamu
Kemudian pulang
Temui ibumu
Mintalah segelas susu
Agar besok, kau bisa lebih pintar

Padang, 3 Juni 2011

Hati Beku

Benar-benar ada, bersemayam di sini
Di dada kiri ini

Mengakar, dan mengurungku
Jemarimu telah membiusku
Dingin
Membekukan darah yang bernama Hati


Padang, 14 07 11

Kalah

Butiran-butiran angin yang kau tawarkan
Begitu menggoda
Melarutkan pualam dari sudut langit

Kerlingan matamu pun
Meruntuhkan karang yang bersembunyi

Ya, aku mengaku kalah
Jantungku memberontak
Syarafku berbelit di kepalaku
Nafasmu menyusup ke darahku


Padang, 14 07 11

Cerita Masih Mengalir dalam Hati

aku tak ingin menjadi angin
hanya berlalu tanpa lagu
bisu namun menghapus genggaman waktu

aku berharap menjadi rangkaian nada Sang Maesrto
mengubah grid nada menjadi kenangan
mengubah gelap menjadi gemerlap

seperti rangkaian gerimis,
satu per satu kisah kita menghilang
terhapus rona waktu

meski kisah ini telah berlalu
namun cerita ini masih mengalir di hatiku


LCCT Air Port, 18 Januari 2011

to semua yang telah senantiasa menyambut kedatangan kami di KUIN SPMalaysia

Semut Senja, Siapa yang Tahu ?

Semut-semut itu terus mengerayangi senja
hadir untuk menelan manis malam
gelap baginya adalah hujan

Semut-semut bernyanyi
berteriak diantara kerikil tajam
meski hanya mampu merasakan manis

di kaki rerumputan mereka bersujud
siapa yang tau ?

Debu adalah cerita siang ini
gejolak paginya masih dirindukan
luas jauh mmbentang harapnya

Sejuta petir nada untuk semut-semut senja ini
meski gerimis tak datang, itu cukup !

Lentera senja tak kan lelapkan lagunya
semut-semut berpesta di lubang berlumpur
berbasah peluh dalam perut kabut

Masih adakah semut di balik kerikil
siapa tang tau ?

Padang,080808

Senja Tak Mengerti

the master piece 

Tentang sebuah makna berbuah nyawa bersekat roda-roda hari
Terbungkus melambai menyelam fajar
Masih terbalut embun-embun berduri, itulah mereka
Beraroma taburan melati senja hari
Menyeret awan dalam hujan kebingungan
Senja itu tak mengerti untuk apa aku terpejam

Padang, 4 September 2008

Bukan Permata Hilang, Hanya Belum Ditemukan

Ada dua bintang menusuk ku dari belakang
hamparan rumput menyaksikan kemarau
jika menjadi puing-puing, diamlah !
mentari tak terbit di ujung jalan

Di tepi sungai mengharu sepi
tak henti menghitam senja

Lepaskan saja biar ia terbang
satu per satu melayang jatuh
bisa pelangi berbisik saat tidur
bersembunyi ada di balik pagi

Bocah Itu Menemui Peri Pagi

Maut gemerlap ruang waktu yang tertidur, terlahir dalam pagi yang semu. mereka berlari menelusuri kisah yang terus berlalu dalam angan malam yang semakin terbenam oleh waktu. Kapan pun mereka hilang, awan itu akan tetap meraih mimpi hingga ke surga.

Memang banyak yang tidak mengerti tentang kemana bocah itu akan berlari. tapi teriakan embun-embun yang belalu semakin memburamkan laju kata yang terus larut.

Aku pernah bertanya kemana bocah itu akan pergi ? Bocah itu menjawab, "Aki ingin menemui peri pagi". Kemudian dia terus berlari meninggalkanku dan tak peduli dengan jalan yang ia tempuh.

Awan Mulai Membeku

Tak ada bukan berarti hilang
mereka ada di balik awan
masih mengumpulkan kata untuk bersemi

Awan kini mulai membeku
satu persatu mengumpulkan energi
cermin itu telah bertemu peri pagi
hanya saja belum saatnya untuk terbang